Kenapa Harus Memiliki Kekuasaan dan Daulah

Posted on Maret 10, 2008. Filed under: Opini | Tag:, , |

Menurut Ilmu Mantiq (logika )

Memperbincangkan istilah “Negara Islam ( yang didasarkan kepada AL Qur’an dan Sunnah Saw), untuk itu kita menoleh ilmu mantiq (logika). Padanya, bahwa “dilalah (penunjuk)”, garis besarnya terbagi dua:

a). Dilalah lafdhiyah. yaitu bilamana penunjuk itu merupakan lafadh atau perkataan.
b). Dilalah ghairu lafdhiyah. Yaitu bilamana si penunjuk itu bukan merupakan lafadh, tetapi merupakan isyarat, tanda-tanda, bekas-bekas dsb.

Berdasarkan pengetahuan logika itu, maka mengenai pengertian (konsep) Negara Islam dalam Al Qur’an, sebagai penunjuknya itu ialah “isyarat” yang mana Kitabullah itu mengisyratkan bahwa kita harus menjalankan kewajiban-kewajiban antara lain:

a). Menjalankan hukum pidana Islam (S.5 Al Maidah:38, 45. S.24 An nur:2. S.2 Al Baqoroh:178).

b). Melaksanakan ibadah yang berkaitan dengan perekonomian, diatur oleh penguasa Islam, sehingga menyalur pada kebenaran Ilahi (S.9 At Taaubah:29).

c). Mempunyai kepemimpinan tersendiri sehingga tidak didikte oleh manusia yang setengah-setengah (fasik/ kafir) terhadap Islam (lihat S.5 Al Maidah:51, 57. S.7 Al Araf:3. S.3 Ali Imran:28. S.4 An nisa:144).

d). Memiliki kekuatan militer tersendiri, umat berfungsi sebagai Tentara Islam (S.8 Al Anfal:60. S.4 An Nisa:71, 81).

e). Wajib menumpas setiap kekuatan yang menentang tegaknya syariat Islam (S.8 Al Anfal:39, S.2 Al Baqarah:193, S.9 At Taubah:73, 173).

Dengan adanya kewajiban-kewajiban itu saja telah menunjukkan keharusan umat Islam memiliki kedaulatan sendiri. Yaitu “negara yang disandarkan kepada Al Qur an dan Sunnah Saw”, artinya yaitu negara Islam.

Barusan kita menolehnya dari ilmu mantiq, kini kita tinjau pula dari sudut Ushul Fiqih yang bunyinya:

“Suatu kewajiban yang tidak akan sempurna kecuali dengan sesuatu hal, maka sesuatu hal itu menjadi wajib”.

Yang dimaksud dalam kaidah di atas itu, yakni bahwa dalam menjalankan sesuatu kewajiban, sedangkan untuk bisa menyempurnakan kewajiban yang dituju itu harus menggunakan bentuk pekerjaan, maka menjalankan bentuk pekerjaan demikian itu wajib adanya. Contohnya, dalam hal wajib berwudhu untuk melakukan shalat. Sungguh kalau dicari dalam Al Qur’an tidak didapat ayat yang bunyinya secara saklek mewajibkan kita berusaha memperoleh air. Akan tetapi, kewajiban berpikir dan berbuat dengan ilmu dalam hal ini sudah jelas tidak perlu disebutkan.

Sama maksudnya dengan kaidah di atas tadi, di bawah ini kita lihat lagi kaidah ushul yang bunyinya:

“Memerintahkan sesuatu berarti memerintahkan pula seluruh perantara-perantaraannya”.

Misalnya, memerintahkan naik rumah, hal itu berarti juga memerintahkan mentegakkan tangga, sebagai perantaraannya. Sesuatu perbuatan yang diperintahkan tidak akan terwujud kecuali dengan adanya perbuatan-perbuatan lain sebelumnya, atau alat-alat untuk mewujudkan perbuatan yang diperintahkan itu, maka perbuatan-perbuatan lain dan alat-alatnya disebut perantara (washilah) sebagai muqayyad.
Berdasarkan ilmu ushul itu pun maka mentegakkan negara / daulah Islamiyah itu hukumnya wajib. Sebab, bahwa Daulah Islamiyyah itu sebagai alat untuk kita bisa menterapkan hukum-hukum Islam secara sempurna. Juga merupakan washilah yaitu perantara untuk mendhohirkannya.

Seirama dengan qaidah mantiq dan qaidah ushul, maka Ilmu “Musthalah Hadits” menyatakan bahwa “hadits” ialah semua yang disandarkan kepada Nabi Saw., baik berupa ” qauliyah” (perkataan), “Fi’liyaliyah” (perbuatan) dan “Taqririyah” ( pengakuan). Penjelasannya sebagai berikut:

a). Qauliyah ialah berupa perkataan, baik itu berupa perintah atau larangan, pun berita yang diucapkan Nabi. Artinya, merupakan lafadh, perkataan.

b). Fi’liyah yaitu yang berupa perbuatan Nabi Saw. Pada point kedua ini dimengerti bahwa yang dinamakan “Hadist” Nabi SAW itu tidak semua berupa perkataan. Jadi, bila Nabi Saw itu tidak mengucapkan kata “Negara Islam” atau “Daulah Islamiyyah” tetapi bila nyatanya Nabi itu telah membentuk organisasi yang setara dengan “negara”, serta menjalankan hukum-hukum Islam yang berhubungan dengan kenegaraan / kekuasaan, maka mendirikan negara yang hukum-hukumnya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Saw adalah wajib bagi umat Islam mencontohnya.

c. Taqririyah yaitu pengakuan Nabi Saw terhadap perbuatan sahabat yang diketahui oleh Nabi, tetapi Nabi Saw tidak menegur atau menanyakannya. Yang semuanya itu bersangkutan dengan beberapa hikmah dan hukum-hukum yang terpokok dalam Al-Qur’an.

Dengan hal-hal yang dipraktekkan oleh Nabi Saw, jelas sekali bahwa adanya “negara Islam” didalam hadist, maka sebagai penunjuknya yaitu “perbuatan” Nabi Saw — Yang mana telah membuat garis pemisah antara kekuatan militer musyrikin dan militer Islam. Barisan Abu Jahal dan Abu Lahab memiliki prajurit bersenjata, maka Nabi pun menyusun dalam mengimbanginya ( Q.S.8:73). Rasul Saw telah bersikap tegas, siapa saja yang menyerang negara Madinah, maka dianggapnya sebagai musuh walau telah mengaku Islam ( Perhatikan Q.S.4:97 dan sikap Nabi terhadap Abu Abas sewaktu menjadi tawanan yang minta dibebaskan tanpa syarat).

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: