Politik Hijrah sang Imam

Posted on Desember 12, 2007. Filed under: Sejarah | Tag:, , , |

Resensi Buku SM Kartosuwiryo
Sumber: Majalah D&R, 20-26 September 1999, hal. 37
Judul buku:

  1. Menelusuri Perjalanan Jihad S.M. Kartosoewirjo, Oleh Irfan S. Awwas, Wihdah Press, Yogyakarta, Juli 1999 (cetakan kedua), xxxvi + 185 halaman.
  2. Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S.M. KARTOSOEWIRJO, Oleh Al Chaidar, Darul Falah, Jakarta, Muharram 1420, Lii + 854 halaman


“Kecerdasan S.M. MARIJAN Kartosoewirjo, berdasarkan hasil evaluasi psikologi, adalah bertaraf tinggi. Mutunya tidak bertitik berat pada kemampuan akademis semata-mata, rnelainkan juga pada penggunaan fungsi-fungsi intelektual yang ada padanya.” Kalimat-kalimat yang tertera dalam buku “Menelusuri Perjalanan Jihad S.M. Kartosoe-wirjo” itu dikutip dari hasil observasi dan interview petugas Kodam Siliwangi terhadap Kartosoewirjo pada tahun 1962.

Buku itu, juga buku yang ditulis Al Chaidiar, ingin membuktikan bahwa tokoh kelahiran Cepu, 1905, itu bukanlah seorang pemberontak. Melainkan seorang pemikir intelektual yang konsisten dengan ide-idenya. Kedua buku itu mencoba menyingkap tabir sejaruh seorang pemikir generasi pra kemerdekaan negeri ini.

Kata kunci dalam memahami Kartosoewirjo adalah “politik hijrah”. Dalam tradisi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), partai yang pernah dipimpin Kartosoewirjo, politik hijrah adalah pelenyapan struktur kolonial. Garis politik ini pertama kali dirumuskan pada kongres pertama PSII, tahun 1923-1924.

Politik hijrah yang non-kooperatif itu sempat menimbulkan konflik serius di tubuh PSII: antara kubu Kartosoewirjo-Abikoesno dan kubu Mohammad Roem-Agus Salim. Abikoesno yang menjadi Ketua Dewan Ek-sekutif berkukuh dengan sikup non-koope-rasi sernentara Dewan Partai yang dipimpin Agus Salim cenderung pada sikap terbuka untuk bekerja sama dengan penguasa Belanda. Salim dan Roem khawatir kalau politik non-kooperasi diteruskan, PSII akan mengalami kerugian forum politik. Dalam pandangan Roem-Agus Salim, politik non-kooperasi akan merugikan rakyat, karena partai tidak lagi mewakili kepentingan rak-yat, tapi hanya demi kepentingan partai.

Pada tahun 1935 Abikoesno dan Kartosoewirjo meletakkan jabatan mereka di PSII untuk memberi kesempatan Agus Salim melaksanakan referendum atas sikap non-koo-perasi partai. Namun, tampaknya arus utama di tubuh partai justru lebih condong kepada Abikoesno-Kartosoewijo. Ini terbukti saat Kongres PSII, Juli 1936, mcreka kembali terpilih sebagai ketua dan wakil partai. Pada kongres ini pula, Abikoesno memberi kesempatan pada Kartosoewirjo untuk menguraikan secara terperinci konsep politik hijrah partai. Kartosoewirjo lantas mengurakan pemikirannya dalam bentuk brosur dua jilid.

Dalam brosur itu pemikiran Kartosoewirjo semakin matang dan menemukan orisinalitasnya. Pilihan-pilihan yang dilakukan Kartosoewiijo pada masa-masa PSII ini menunjukkan preferensi dan minatnya yang akan rnenjadi kenyataan dengan proklamasi Negara Islam Indonesia. Bahkan, boleh dibilang, proklamasi NII dan perseteruannya dengan Republik Indonesia hanyalah konsekuensi yang harus diambil oleh Kartosoewirjo dan para pengikutnya.

Memproklamasikan NII

Tapi, akhirnya, Kartosoewirjo pun kelihatan terlalu konsisten di mata Abikoesno yang memandang politik hijrah lebih sebagai taktik perjuangan ketimbang prinsip atau ideologi partai. Ketika ia bergabung dalam Gabungan Politik lndonesia (GAPI) –suatu federasi antar partai– Kartosoewirjo menentangnya. Tuntutan GAPI, yaitu pembentukan parlemen Indonesia, dipandang Kartosoewirjo sebagai sikap kooperasi dengan corak lain. Kartosoewirjo secara konsisten tetap bertahan dengan politik hijrahnya.

Kartosoewirjo kemudian dipecat dari partai. Lantas, ia pun membentuk Komite Pembela Kebenaran (KPK) PSII. Dengan menggunakan Anggaran Dasar PSII, ia menganggap KPK PSlI sebagai satu-satunya PSII yang benar. Namun, ia tidak lantas berkutat dengan masalah-masalah organisasional. Lebih jauh ia membentuk “Institut Shuffah”. Dengan lembaga ini, Kartosoewirjo mengantisipasi masa depan dengan mendidik kader-kader muda. Yang menarik para kader ini tidak hanya diajarkan masalah agama dan politik, juga diajari dasar-dasar kemiliteran. Agaknya, ketika Negara Islam Indonesia diproklamasikan pada tahun 1948 dan Tentara lslam Indonesia dibentuk, anggotaTentara Islam Indonesia banyak berasal dari lembaga ini.

Bersama para pengikut dan kader-kadernya, Kartosoewirjo selalu menolak apa pun perjanjian antara pihak Indonesia dan pihak Belanda semasa revolusi fisik. Keyakinannya untuk melakukan suatu jihad tehadap Belanda, pilihan yang membawanya hampir 15 tahun berkelana di pelosok hutan dan gunung.

Sayangnya, kedua penulis kurang mengeksplorasi lebih jauh konflik antara kubu Salim-Roem dan kubu Kartosoewirjo-Abi-koesno. Keberatan Salim-Roem terhadap politik hijrah sebenarnya jauh lebih padat dan berisi ketimbang seperti yang digambarkan oleh Chaidar. Saat mengomentari keberatan Roem terhadap “politik hijrah”, misalnya, Chaidar menulis: “Beginilah sikap orang-orang Islam kita yang tidak menghar-gai ide-ide cemerlang yang tumbuh di sekelilingnya.” (hal. 46).

Padahal, konflik di antara kedua kubu di PSII itu merupakan awal mula pemisahan besar-besaran antara dua arus besar dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Salim-Roem, dan juga Soekarno, adalah pewaris-pewaris utama cita-cita nasionalisme yang sudah tertanam dalam diri Tjokroaminoto, sementara Kartosoewirjo lebih mewarisi Islamisme, arus lain yang juga sudah diwariskan dari Tjokroaminoto. Akan halnya arus pemikiran sosialisme Tjokroaminoto diwarisi oleh Semaun.

Sejarah kemudian mencatat Kartosoe-wirjo akhirnya tertangkap pada 4 Juni 1962 di sebuah gubuk tersembunyi di hutan Gu-nung Rakutak yang gelap. Ajal pun menjem-putnya ketika pemerintah Indonesia menjatuhkan hukuman mati pada September 1962. Tapi, lewat kedua buku ini, seakan Sang Imam hadir kembali.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: