Pandangan UU Madinah terhadap Nasionalisme

Posted on September 14, 2007. Filed under: Opini | Tag:, , |

Nasionalisme atau suatu paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri telah banyak dianut oleh hampir semua negara yang berjuang membebaskan dari belenggu negara penjajah pada tahun tiga puluhan, empat puluhan dan lima puluhan, dari mulai negara-negara di Afrika sampai Asia. Nasionalisme adalah suatu paham untuk dipakai menyatukan rakyat dalam suatu golongan dan bangsa untuk lepas dari ikatan penjajah.
Contohnya rakyat Indonesia yang berjuang dengan menggunakan tali pengikat paham nasionalisme untuk membebaskan bangsa dari cengkraman penjajah Belanda selama lebih dari tiga ratus lima puluh tahun dan penjajah Jepang selama tiga tahun lebih.

Ternyata nasionalisme ini tidak hanya dipakai sebagai dasar perjuangan semasa pembebasan rakyat dan negara dari penjajah, melainkan juga diteruskan dan dikembangkan oleh kelompok atau golongan dalam bentuk ideologi partai dan organisasi masyarakat sampai sekarang. Kalau kita lihat di Indonesia beberapa partai politik yang berasas pancasila dengan lebih banyak menampilkan paham nasionalisme, diantaranya Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Nasional Demokrat (PND), Partai Kristen Nasional Indonesia (PKNI), Partai Nasional Indonesia massa Marhaen, Partai Buruh Nasional (PBN), Partai Nasional Bangsa Indonesia (PNBI) dan Partai Kebangsaan Merdeka (PKM). Jadi kalau kita lihat dari semua partai-partai politik yang ikut pemilihan umum tanggal 7 Juni 1999 yang lalu, maka partai-partai politik yang berasas pancasila dengan penampilan paham nasionalisme-nya adalah sekitar tujuh belas persen.

Nah, dengan menggunakan kaca mata Undang Undang Madinah saya akan melihat nasionalisme. Bagaimana menurut Undang Undang Madinah tentang nasionalisme?.

Kalau kita melihat dan mempelajari dari apa yang telah dicontohkan Rasulullah SAW seribu tiga ratus tujuh puluh tujuh tahun yang lalu ketika dilahirkannya Undang Undang Madinah (Piagam Madinah), maka bukanlah nasionalisme yang menjadi ikatan persatuan ummat, melainkan persatuan seagama dengan mengangkat hak asasi manusia tanpa melihat nasionalitas, kebangsaan, kesukuan, golongan dan ras.

Bangsa, suku, kabilah, kelompok memang diakui oleh Islam, tetapi tidak berarti dengan adanya kebangsaan dan kesukuan itu dijadikan dasar untuk membentuk satu organisasi, masyarakat, negara, sehingga terpisah antara bangsa yang satu dari bangsa yang lain atau suku yang satu dari suku yang lain, karena kalau demikian bukan seperti yang dimaksudkan oleh ayat 13 surat Al Hujurat yaitu dijadikannya bangsa dan suku adalah untuk saling kenal mengenal, bukan untuk dijadikan alat pemecah belah, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(Al Hujurat,49:13).

Dengan dasar persatuan seagama dengan mengangkat hak asasi manusia tanpa melihat nasionalitas, kebangsaan, kesukuan, golongan dan ras dengan tujuan untuk beribadah dan bertaqwa Kepada Allah SWT inilah seperti yang difirmankan Allah “Sesungguhnya kamu adalah ummat yang satu, Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku” (An-Biyaa’,21:92). “Dan sesungguhnya kamu adalah ummat yang satu, Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepada-Ku” (Al Mu’minun,23:52 ) yang menjadi dasar dalam Undang Undang Madinah (Piagam Madinah) yang dibuat oleh Rasulullah SAW seribu tiga ratus tujuh puluh delapan tahun yang lalu.

Nah sekarang akibat adanya kebangsaan, nasionalitas, kesukuan dan kekabilahan, maka lahirlah berbagai negara dan juga beberapa “negara Islam” dengan kebangsaan dan nasionalitas sebagai batas negara, disamping batas teritorial negara. Dan tidak heran apabila seorang muslim datang mengunjungi suatu “negara Islam” yang ditanya terlebih dahulu adalah “darimana asal saudara?”, bukan ditanya ” apakah saudara muslim?”.

Kesimpulan terakhir adalah Islam tidak mengajarkan kepada pemeluknya untuk menjadikan bangsa, suku, kabilah, kelompok sebagai dasar suatu organisasi, masyarakat, negara, sehingga terpisah antara bangsa yang satu dari bangsa yang lain atau suku yang satu dari suku yang lain. Karena itulah nasionalisme tidak diajarkan oleh Islam dan tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW sewaktu membuat Undang Undang Madinah, maka orang-orang yang menjadikan nasionalisme sebagai dasar perjuangannya, mereka itulah yang menjadikan kaum muslimin terpecah belah kedalam golongan-golongan, bangsa-bangsa dan negara-negara.

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

About these ads

Make a Comment

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: